Selasa, 27 September 2011

Hujan (part I)



A: Hai, kamu sendirian? (dengan kotak berisi boneka yang disembunyikan dibalik punggung)
B: Haha :D begitulah. aku hanya ingin menghabiskan waktu disini
A: Kenapa? Apakah kedatangan ku mengganggu mu?
B: Aku tak tau, aku cuma ingin mengulang indahnya kepergian nya
A: Kepergian? Siapa maksud mu?
B: Sudahlah jangan kau ikuti perkataan bodoh ku ini
A: Apa yang kau perhatikan?
B: Dia...
A: Sungguh tak ada siapa pun disini selain kau dan aku
B: Aku tau itu
A: Lalu?
B: Dia begitu indah sama indahnya dengan langit senja ini
A: Kau membayangkan seseorang? (dengan penuh kekhawatiran)
B: Mungkin
A: Mungkin keberadaan ku mengganggumu
B: (hanya tersenyum)
A: aku rindu akan senyummu. baiklah aku tak mengerti apa yang kau fikirkan
B: sungguh aku senang kau disini. sudahlah, mungkin aku sedikit gila karna mu.
A: Bolehkah aku tahu kenapa engkau selalu disini?
B: Aku hanya menunggunya kembali. kembali untuk menepati janjinya
A: (kecewa) baiklah, aku akan membiarkanmu menunggunya
B: jangan pergi.
A: (ayo panggil aku kembali, aku hanya ingin memberi mu sesuatu) (bersembunyi dibalik pohon dan tetap mengamati)
B: engkau tinggal kan ku kembali. disini sendiriii... menunggu mu :( (menangis)



*tiba-tiba hujan turuuun

B: Hujaaaaaan? Mungkin hanya kau 'dia' yang kutunggu. Atau mungkin kau datang untuk menemani ku? Membantu membasuh air mata ku yang kian tak terbendung?


*tanpa disadari air matanya pun mengiringi tetasan air hujan

B: haha (tawa terpaksa) liatlah hujan aku menangis, entah apa yang ku tangisi (menghapus air mata) mungkin dia yang berlalu (nada merendah)

*sementara di sisi lain

A: hujan? Kau datang disaat yang tepat, mungkin disaat inilah aku bisa menangis. Dan kau.... bisa kah kau menolong ku? (diam sejenak) heeeiii... jawablah. Mungkin aku terlalu gila berbicara dengan mu. Tapi tolonglah, aku bukan lelaki cengeng. Aku hanya ingin dia tau aku kembali untuknya untuk menepati janjiku padanya. Atau mungkin dia sudah lupa dengan janji kami. (air matanya menetes). Kau lihat hujan... tak mungkin ku bendung lagi air mata ini. Secepat itu dia melupakan ku, mungkin dia telah mendapatkan pengganti ku. Hujan... jika kau berbaik hati, jadilah perantara perasaan ku lewat tetesan tetesan mu yang membasahi tubuhnya, tapi ku mohon jangan buat dia tersakiti..

*daaaan...

A: HUJAAAAAAAAAAN! Sampaikan padanya, sungguh ku menyayanginyaaaaaa..... aku sayang di di diiiia (terbata-bata). Buatlah dia merasakan ini hujan. Sentuh dia dengan hempasan lembut angin mu. Buat lah dia merasakan ini hujan. Aku merindukannya dan aku tetap menunggunya kembali (berteriak sekuat tenaga)

*petiiiiiir menghempas bumi, tepatnya hati seseorang yang memperhatikan dari jauh

B: Hujaaaaaan kau dengar itu? (melihat langit) kau mendengarnya kan? Mungkin dia tak memperdulikan ku lagi. Sudah saatnya aku benar-benar perg dari hidupnya. Dan iniiii (bingkisan), akan ku letakkan di bawah pohon ini. Semoga yang menemukannya menyukai ini, sama halnya dengan dia ‘jika ia menhetahui ini untuknya’ (menghapus air hujan yang membasahi mukanya atau mungkin air matanya)

A: Hujaaaaan! Aku senang diterpa angin mu. Aku senang kau membasahi ku. Aku tak peduli jika harus terbang di bawa angin yang mulai kencang. Aku tak peduli seberapa menusuk dingin di senja ini. Bawa aku hujaaan... kemana pun kau ingin mengalir, bawa juga dia mengalir dengan mu pertemukan kami di tempat yang sama. (memejamkan mata dan mulai menikmati senja yang begitu perih)

*kencangnya angin di senja itu membuat kotak hadiah itu mengalir dan terus mengalir....

A: (seseuatu menyentuh ku, katanya di dalam hati) Apa ini? Bingkisan? Punya siapa? Mungkin aku akan membukanya... atau mungkin aku harus membiarkannya. Astaga... sudah berapa lama aku berada di sini? Hujan dimana kau? Kau tinggalkan ku sendiri? Ternyata kau sama saja dengan dia, tapi ku rasa aku mulai gila dengan kisah ini. Baiklah hujan, aku akan mencari penggantimu. Tapi esok hari. Sudah saat nya aku kembali. Tapi bingkisan ini ku titip kembali pada mu, jaga hingga pemiliknya menemukan ini J hujan... dimana pun kau kini, trima kasih kau tlah membuat ku sedikit tenang
    






*bersambung
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar